Lifestyle | August 31, 2016 at 01:13 AM post by admin (view 1323)

PENGGEMAR sepeda onthel di Manado semakin banyak. Penggemarnya pun semakin beragam, bukan hanya dari kalangan tua, melainkan juga anak muda. Mereka berasal dari berbagai profesi. Para pehobi sepeda tua di Manado ini pun sering berkumpul, yang kemudian membentuk satu komunitas.


Sepeda onthel merupakan sepeda tua  yang sudah digunakan sejak zaman Hindia Belanda. Pada tahun 1970-an keberadaan sepeda onthel mulai digeser oleh sepeda jengki yang berukuran lebih kompak baik dari ukuran tinggi maupun panjangnya, serta tidak dibedakan desainnya untuk pengendara pria atau wanita. Waktu itu sepeda jengki yang cukup populer adalah merek Phoenix dari China. Selanjutnya, sepeda jengki pada tahun 1980-an juga mulai tergeser oleh sepeda MTB sampai sekarang.


Berbagai macam merek sepeda onthel dari berbagai negara beredar di pasar Indonesia. Pada segmen premium terdapat misalnya merek Fongers, Gazelle, dan Sunbeam. Kemudian pada segmen dibawahnya diisi oleh beberapa merek terkenal antara lain seperti Simplex, Burgers, Raleigh, Humber, Rudge, Batavus, Phillips dan NSU.


Sepeda onthel pada tahun 1970-an lebih banyak digunakan oleh masyarakat pedesaan dibanding di perkotaan. Namun pada akhirnya karena usia dan kelangkaan, sepeda onthel telah berubah menjadi barang antik dan unik.


Mulailah situasi berbalik. Sepeda onthel yang dulunya terbuang, sekarang pada tahun 2000-an justru diburu kembali oleh semua kalangan mulai dari pelajar, mahasiswa sampai pejabat. Orang Jawa mengatakan inilah wolak-waliking zaman. Keranjingan masyarakat terhadap sepeda onthel adalah tepat bersamaan dengan berkembangnya ancaman global warming.


Kini banyak klub-klub dan komunitas sepeda kuno dari berbagai daerah di Indonesia, tersebar dari Sabang hingga Merauke yang jumlahnya ratusan komunitas. Itu pun hanya yang sempat terpantau dan terdaftar, belum lagi masih banyak yang tidak terdaftar atau ikut organisasi di bawah naungan Kosti (Komunitas Sepeda Tua Indonesia).


Dan Sulawesi Utara pada 14 Juli 2016 lalu, terbentuklah Kosti Sulut yang juga bertepatan dengan ulang tahun Kota Manado. Pengurus Kosti Sulut diketuai Ir. M.H.F  Sendoh, sekretaris Michael Mamentu, dan bendahara Maya Egy Ibrahim.


Sementara sebelumnya di Manado juga sudah ada komunitas yang bernama Setuamo (Sepeda Tua Manado) yang berdiri pada 14 Juli 2013. Pengurus/tim formatur Setuamo, ketua Denny Karwur, sekretaris H. Parasana Nasri, bendahara Sonny Wantouw,  dengan penasehat Ir. M.H.F Sendoh.


Denny Karwur selaku Ketua Setuamo mengatakan bahwa komunitas ini memiliki lima filosofi yaitu warisan, olahraga, ramah lingkungan, hemat energi, dan torang samua basudara.  “Komunitas ini tidak mengenal suku, ras dan agama. Siapapun yang hobby sepeda tua boleh bergabung,’’ kata Karwur.  


Karwur menambahkan  sepeda tua adalah sejarah, kita harus simpan dan jaga. ‘’Sepeda tua, ibarat rantai dan pedal yaitu kebersamaan dan kemauan,’’ kisah Karwur, yang ketika mengendarai sepeda tua ini pertama kali diteriaki ‘botol karong’.


Setuamo sendiri terbentuk tidak lepas dari peran serta Max Rudi Siwi, ketika itu bersama-sama mulai memperkenalkan sepeda tua di Manado. “Alm. Max sendiri sangat besar perannya, pada saat itu beliau sebagai kepala bengkel Setuamo. Jadi siapa pun yang hobi bersepeda tapi belum punya sepeda bisa gabung bersama-sama dengan menggunakan sepeda miliknya,” papar Denny Karwur.


Sementara penasihat Setuamo yang juga Ketua Kosti Sulut, Ir. M.H.F Sendoh mengatakan bagi para pehobi sepeda onthel yang tersebar di kabupaten/kota di Sulut, silahkan membentuk komunitas sepeda tua. Karena yang dia tahu, penggemar sepeda onthel sudah menyebar ke beberapa daerah di Sulut.


Para penggemar sepeda tua di Manado, tak sedikit pula yang berburu sampai ke luar daerah. Seperti yang dilakukan sekretaris Setuamo, H. Parasana Nasri. ‘’Seperti sepeda NSU buatan tahun 1950 ini saya dapatkan sampai di Palangkaraya dan spesialnya lagi sepeda ini hanya ada 3 di Indonesia,” ungkap Parasana Nasri.
Untuk kisaran harga sepeda onthel bervariasi juga. Seperti data yang didapatkan dari anggota Setuamo Toni Gadito, kisaran harga sepeda onthel dilihat dari bentuk fisik dan juga dilihat dari part-partnya apakah masih original mulai dari ratusan ribu sampai jutaan rupiah.


”Untuk sepeda Gazelle seri 5: 12,5 juta. Humber seri FA: 9 juta, Humber seri AB: 4 juta, Fongers H-60: 4,75 jt, Fongers Dames/perempuan: 4,5 juta. Simplex Dames/perempuan: 4 juta. Harga sudah on the road biasanya barang dikirim dari Jawa,” ungkap Toni.


Untuk kegiatan Setuamo dan Kosti sendiri,  setiap hari Sabtu pagi berkumpul di Kawasan Mega Mas. Biasanya kegiatan yang dilaksanakan berupa fun bike dengan rute-rute yang sudah ditentukan. “Selain itu, kita juga sering mengadakan kegiatan bersih-bersih lingkungan. Seperti pada beberapa waktu lalu kami mengadakan bersih-bersih di pantai Malalayang dan juga di daerah Sindulang,” ujar Daniel Andree,  Humas Kosti dan Setuamo.


Bagi teman-teman penggemar sepeda tua/onthel bisa bergabung dengan di fan page Facebook Kosti Sulut dan juga Setuamo. Atau datang langsung setiap hari Sabtu di Kawasan Mega Mas. (dan/*)