News Update | September 28, 2016 at 02:53 PM post by aiskai (view 902)

INI ‘ladang air’ pulau Sulawesi. Julukan tersebut sudah lama dialamatkan bagi Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW), yang dikenal pula sebagai kawasan konservasi darat terluas di pulau Sulawesi. Karena areal perlindungan ini memang menjadi pemasok sumber air utama bagi sebagian besar sungai yang mengalir di bumi Totabuan (Sulut) maupun di wilayah provinsi Gorontalo.

Secara umum, kawasan TNBNW merupakan area tangkapan air bagi sejumlah daerah aliran sungai (DAS) utama di dua wilayah daerah tersebut. Bahkan ada lebih dari 20 sungai dan anak sungai ‘disediakan’ dari taman nasional ini untuk menopang kehidupan penduduk di wilayah tersebut.

DAS Dumoga di Sulut dan DAS Bone Bolango di Gorontalo, boleh dikata sebagai contoh paling mengesankan dalam perlindungan tata air di taman nasional ini. Karena memang kedua daerah tersebut dikenal memiliki wilayah dengan jumlah penduduk padat, sekaligus menjadi sentra produksi pertanian di masing-masing provinsi. Mulai dari sumber air minum penduduk, ragam aktivitas  rumah tangga, sampai kebutuhan ekonomi pertanian untuk persawahan, kolam, dan ladang, sangat tergantung pada pasokan air dari kawasan TNBNW.

DAS Dumoga, misalnya, ikut memberikan pasokan air lebih dari 32 ribu hektare sawah di wilayah yang dikenal sebagai lumbung padi Sulut ini. Begitu juga dengan ratusan hektare kolam air tawar, yang airnya berasal dari kawasan tersebut. Belum lagi dengan puluhan ribu hektare areal perkebunan di tiga kecamatan wilayah Dumoga, yang relatif terjaga kesuburan dan persediaan air tanahnya, karena ‘perlindungan’ ekosistem dari benteng hayati Sulawesi itu.

Paduan sajian ekonomi dan ekologi dari pasokan ‘pabrik air’ TNBNW ini pun belum termasuk beberapa DAS di wilayah ‘jangkauannya’. Sebut saja, DAS Sangkup di sebelah utara dan DAS Molibagu di sebelah selatan, atau DAS Mongondow yang mendapat ‘sumbangan’ air dari DAS Dumoga, yang selama ini menyalurkan pasokan air utama untuk kegiatan pertanian maupun ragam kebutuhan sosial ekonomi lain di bumi Totabuan.

Jadi, memang gampang diperkirakan akibat yang ditimbulkan dari kerusakan hutan  yang terjadi di TNBNW. (ak)